a. Pengertian Quatum Teaching
Quantum Teaching menurut pendapat Bobbi DePorter (dalam Ari Nilandri, 1999;56) adalah sebagai berikut :
"Quantum Teaching adalah berbagai interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur- unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Pembelajaran yang menyingkirkan hambatan yang menghalangi proses kegiatan belajar dengan cara sengaja mengggunakan musik/mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran yang sesuai pengajaran yang efektif dan banyak mengaftifkan siswa.
b. Asas Quantum Teaching.
Asas utama Quantum Teaching menurut pendapat Bobbi DePorter adalah Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka. Inilah Asas Utama alasan dibalik segala strategi, model, dan keyakinan Quantum Teaching. Setiap interaksi dengan siswa , setiap rancangan kurikulum , dan setiap metode Instruksional dibangun di atas prinsip Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita , dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka. (dalam Bobby De Porter ,2010:34) maksud dari asas tersebut adalah mengenai aspek kepribadian manusia. Semua aspek itu meliputi pikiran, perasaan, bahasa isyarat, pengetahuan, sikap dan keyakinan serta persepsi masa mendatang. Jadi belajar akan berhasil apabila dengan cara mengaitkan yang diajarkan dengan suatu peristiwa, pikiran atau perasan yang diperoleh dari kehidupan rumah. Belajar akan berhasil bila guru bisa memahami keadaan siswa-siswanya, sehingga semua materi, pesan yang disampaikan akan tertanam di hati siswa tersebut. Akhirnya dengan pengertian yang lebih luas dan penguasaan lebih mendalam, siswa dapat mengambil apa yang mereka pelajari ke dalam dunia mereka dan menerapkannya pada situasi baru.
c. Prinsip-prinsip Quantum Teaching.
Menurut Bobbi DePorter (dalam Ari Nilandri, 2010:36 ) Quantum Teaching memiliki lima prinsip atau kebenaran tetap. Serupa dengan Asas Utama , Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita , Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka. Prinsip – prinsip ini sangat mempengaruhi seluruh aspek Quantum Teaching. Adapun prinsip – prinsip itu adalah sebagai berikut :
1) Segalanya berbicara
Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh, bahasa isyarat mereka, semuanya mengirim pesan untuk belajar.
2) Segalanya mempunyai tujuan.
Semua yang dilakukan guru mempunyai tujuan.
3) Pengalaman sebelum pemberian nama.
Otak kita bisa berkembang pesat dengan adanya rangsangan komunikasi yang akan menggerakkan rasa ingin tahu, oleh karena itu proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka mempelajari.
4) Akui Setiap Usaha.
Belajar mempunyai aturan, belajar berarti melangkah keluar dari kenyataan. Pada saat siswa mengambil langkah ini, mereka pantas mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka sehingga merasa bangga dengan kemampuan yang mereka miliki bisa menimbulkan minat yang lebih besar.
5) Jika layak dipelajari maka layak pula dirayakan.
Perayaan adalah sarapan pelajar juara , perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar. Guru sebaiknya sering memberi hadiah kepada siswa yang berhasil dalam menyelesaikan tugas dengan cepat dan benar. Dengan pemberian hadiah berupa pujian, mereka akan merasa dihargai, sehingga mereka akan selalu berusaha agar dapat memecahkan masalah tugas yang diberikan.
d. Model Quantum Teaching
Model Quantum Teaching menurut Bobbi DePorter (dalam Ari Nilandri, 2010:37 ) hampir sama dengan sebuah simfoni, kita dapat membagi unsur tersebut menjadi dua kata ganti yaitu konteks dan isi. Konteks adalah latar untuk pengalaman guru. Konteks merupakan keakraban meliputi:
lingkungan, suasana, landasan, dan rancangan. Isi, yaitu penyajian dan fasilitas saat guru mengajar, unsur-unsur yang sama tertata dengan baik, suasana lingkungan, landasan, penyajian dan fasilitas.
Dalam aksi konteks guru akan menemukan semua bagian yang dibutuhkan untuk mengubah yaitu :
1) Suasana yang menyenangkan.
2) Landasan yang kukuh.
3) Lingkungan yang mendukung.
4) Rancangan belajar yang dinamis.
Di dalam isi, guru akan menemukan keterampilan cara penyampaian kurikulum apa pun. Strategi yang dibutuhkan oleh siswa yaitu: penyajian yang prima, fasilitas yang luwes, ketrampilan untuk belajar dan ketrampilan hidup.
e. Kerangka Rancangan Belajar Quantum Teaching.
Kerangka rancangan belajar Quantum Teaching menurut Bobbi DePorter (dalam Ari Nilandri, 2010: 39) ada enam yaitu meliputi :
1) Tumbuhkan, artinya seorang guru dalam mengajar harus dapat menimbulkan minat siswa untuk mengikuti pelajaran, dengan berbagai macam, sehingga dengan minat yang ada maka pembelajaran akan dapat berjalan dengan lancar.
2) Alami, maksudnya seorang guru dalam mengajar harus dapat menciptakan pengalaman umum yang dapat dimengerti oleh siswanya. Guru dalam mengajar memberikan contoh peristiwa yang pernah dilihat anak-anak sehari-hari.
3) Namai, maksudnya, seorang guru dalam mengajar menggunakan kata yang mudah dimengerti, rumus yang benar, memberi konsep yang jelas, model yang mudah dimengerti, strategi yang mudah dilakukan.
4) Demonstrasikan, maksudnya guru dalam mengajar member kesempatan pada siswa untuk menunjukkan bahwa mereka tahu, artinya guru dalam mengajar menggunakan alat peraga untuk mendemontrasikan materi yang diajarkan, sehingga siswa akan mudah mengingat isi pesan yang disampaikan oleh guru.
5) Ulangi, maksudnya guru dalam mengajar dapat menunjukkan cara yang mudah untuk mengulang materi. Misalnya, dengan memberikan rangkuman yang diajarkan tadi.
6) Rayakan, maksudnya seorang guru dalam mengajar dapat member pengakuan atas usaha siswa untuk menyelesaikan tugas dan pemerolehan keterampilan serta ilmu pengetahuan. Kelas dapat menjadi rumah tempat siswa, tidak hanya terbuka terhadap umpan balik, tetapi juga menjadi tempat untuk belajar, mengakui dan mendukung orang lain, tempat mereka mengalami kegembiraan dan kepuasan memberi dan menerima, belajar dan tumbuh.
f. Langkah Pembelajaran Quantum Teaching
Menurut Bobbi DePorter (dalam Ari Nilandri, 2010;44) konteks menata tempat/arena belajar sebagai berikut :
1) Suasana kelas meliputi: bahasa yang dipilih guru, cara menjalin rasa simpati dengan siswa dan sikap siswa guru terhadap siswa dalam belajar.
2) Landasan adalah pedoman yang digunakan guru dalam memberikan materi pelajaran.
3) Lingkungan adalah cara menata ruangan kelas, pencahayaan, warna, pengaturan tempat duduk, pengaturan tanaman, music serta semua yang mendukung proses belajar.
4) Rancangan adalah penciptaan karakter unsur penting yang bias menumbuhkan minat siswa mendalami makna dan memperbaiki proses serta tukar-menukar informasi.
g. Strategi Mengajar Quantum Teaching.
Strategi mengajar Quantum Teaching menurut Bobbi DePorter (dalam Ari Nilandri, 2010:49 ) ada lima meliputi :
1) Kekuatan terpendam/niat
“ keyakinan sesorang mengenai kemempuan dirinya sangat berpengaruh pada kemampuan itu sendiri “. ( Menurut Albert Bandura ,1998 ).
Niat seorang guru akan kemampuan dan motivasi siswa harus terlihat jelas. Waktu pembelajaran berakhir guru memandang siswa dengan cara yang menyakinkan, siswa dianggap dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan benar.
Dalam buku Education on the Edge of Possibility, Renate Nummela Caine dan Geoffery Caine menyatakan,
“ Keyakinan guru akan potensi manusia dan kemampuan semua anak untuk belajar dan berprestasi merupakan suatu hal yang penting diperhatikan. Aspek – aspek teladam mental guru berdampak besar terhadap iklim belajar pemikiran pelajar yang diciptakan guru. Guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh kuat pada proses belajarnya ( Caine dan Caine , 1977: 124 )
Ø Peran Emosi dalam Belajar
Memperhatikan emosi siswa dapat membantu guru mempercepat pembelajaran mereka. Memahami emosi mereka dapat membuat pembelajaran lebih berarti dan permanen. Guru menggunakan keadaan positif siswa untuk menarik ke dalam pembelajaran, di bidang mana mereka dapat mengembangkan kompetensinya. Kuncinya adalah membangun ikatan emosional tersebut dengan menciptakan kesenangan dalam belajar, menyakini hubungan yang menyingkirkan segala ancaman dalam suasana belajar.
Penelitian otak semakin menunjukkan adanya hubungan antara keterlibatan emosi, memori jangka panjang, dan belajar.penelitian menyampaikan kepada kita bahwa tanpa keterlibatan emosi, kegiatan saraf otak itu kurang dari yang dibutuhkan untuk merekatkan pelajaran dalam ingatan ( Goleman, 1995, Le Doux, 1993, MacLean,1990 ).
Ø Segala Berperan Serta
Siswa menangkap pandangan guru lebih cepat dan akurat dari pada menangkap apa yang diajarkan. Di sini guru memandang siswa seolah seperti murid yang pintar. Guru dalam memberikan pelajaran banyak senyum, banyak mengobrol dengan akrab, dan berbicara dengan cara yang lebih intelektual dan penuh humor, maka siswa akan merasa nyaman dalam menerima pelajaran.
2) Jalinan Rasa Simpati dan Saling Pengertian
Untuk menarik keterlibatan Siswa dalam belajar, guru bias menjalin hubungan, mengakui rasa simpati dan saling pengertian. Hubungan yang harmonis, akan menimbulkan kehidupan bergairah siswa. Bisa membuka jalan memasuki dunia baru mereka, mengetahui minat kuat mereka , berbagi kesuksesan puncak mereka, dan berbicara dengan bahasa hati mereka.Dengan membina hubungan dengan mereka, maka siswa akan menerima guru dan menerima apa yang diajarkannya.
3) Keriangan dan Ketakjuban
Jika guru bisa menciptakan suasana yang menyenangkan, bias membuat siswa siap belajar, dan lebih mudah, dan dapat mengubah sifat negatif serta memberi pengakuan terhadap siswanya, akuilah setiap usaha semua orang senang diakui. Menerima pengakuan membuat orang bisa merasa bangga, percaya diri dan bahagia. Penelitian yang mendukung konsep bahwa kemampuan siswa akan meningkat karena pengakuan guru. Dalam kajian Garden Wells mengenai bahasa belajar anak, dia mengutip :
“Jika diharapkan melakukan transformasi dengan mudah dan percaya diri, mereka harus mengalami lingkungan baru, sekolah sebagai sesuatu yang menggerakkan dan menantang. Dalam lingkungan ini sebagai usaha harus berhasil dan mereka harus diakui sebagai diri mereka dan apa yang dapat mereka lakukan…… anak yang merasa atau dibuat merasa”.
Ø Dampak Afirmasi
Guru harus menggunakan afirmasi sebagai cara ampuh untuk menambahkan lebih banyak kegembiraan. Memahami kaitan antara pandangan sekeliling dan otak itu penting untuk mengorkestrasi lingkungan belajar yang mendukung. Adapun cara memanfaatkan kemampuan siswa untuk secara tidak sadar menyerap informasi melalui kemitraan otak mata yaitu dengan melakukan hal – hal di bawah ini :
1. Memasang poster Ikon mengenai materi – materi di ruangan kelas
2. Membuat poster Afirmasi
Contoh : “ Aku mampu mempelajarinya “
“ Aku menjadi semakin pintar dengan setiap tantangan baru “
3. Gunakan warna
Adapun warna – warna yang dapat memperkuat pengajaran kepada siswa yaitu : ( warna hijau , ungu, biru dan merah untuk kata-kata penting ), ( jingga dan kuning untuk menggarisbawahi, serta hitam , putih untuk kata-kata penghubung ).
Ø Merayakan kerja keras
Mengadakan perayaan bagi siswa akan mendorong siswa memperkuat tanggung jawab dan mengawali proses belajar siswa itu sendiri. Perayaan akan mengajarkan kepada mereka mengenai motivasi hakiki tanpa “ insentif “. Siswa akan menanti kegiatan belajar, sehingga pendidikan mereka lebih dari sekadar mencapai nilai tertentu.Adapun bentuk- bentuk perayaan antara lain :
1. Tepuk tangan
2. Tiga kali hore
3. Wuss
4. Jentikan jari
5. Poster umum
6. Catatan pribadi
7. Persengkokolan
8. Kejutan
9. Pengakua kekuatan.
4) Pengambilan Risiko
Saat memasukkan unsure risiko ke dalam situasi belajar, Guru akan membangkitkan kesukaan bertualang alami dari pelajar. Hal ini akan membawa melampaui batas mereka sebelumnya dan menambah dampak pengalaman mereka. Belajar itu mengandung risiko . sekali kita bertualang untuk belajar sesuatu yang baru , guru itu berada di zona nyaman , di dalamnya memiliki semua hal yang membuat guru merasa nyaman. Guru mengambil risiko besar di luar zona nyaman. Adapun Memberdayakan siswa untuk keluar dari zona nyaman adalah :
Ø memberi teladan dengan keluar dari zona nyaman
Ø menceritakan zona nyaman kepada siswa
Ø beritahu siswa bahwa guru mendukung 100 %
Ø ajak semua anggota kelas untuk saling mendukung
5) Rasa saling memiliki
Membangun rasa saling memiliki akan mempercepat proses pengajaran dan meningkatkan rasa tanggung jawab pelajar.
Rasa saling memiliki sejati membuat orang merasa berdaya untuk keluar dan mempertaruhkan zona nyaman mereka demi sukses dan belajar. Rasa ini juga dapat menciptakan bahasa dukungan dan standar memperlakukan satu sama lain dengan hormat ( Singer, 1997 )
6) Keteladanan
Keteladanan dapat membangun hubungan , memperbaiki kreadibilitas , dan meningkatkan pengaruh. Seperti paparan sebelumnya bahwa segalanya berbicara. Dan tidak ada yang berbicara lbih keras daripada tindakan . jadi langkah – langkah yang harus dipilih dan dilakukan oleh guru adalah :
1. Teladankan komunikasi yang jelas
2. Akui setiap usaha
3. Senyumlah
4. Menggunakan energy untuk menciptakan lebih banyak energy
5. Jadi pendengar yang baik
6. Ungkapkan pikiran siswa dengan kata-kata sendiri