Jumat, 08 Juli 2011

Model Pembelajaran Role Playing


Model Pembelajaran Bermain Peran
(The Role-Playing Model )
A.     Pengertian
Model ini memberikan kesempatan kepada siswa-siswa untuk praktik menempatkan diri mereka di dalam peran-peran dan situasi-situasi yang akan meningkatkan kesadaran mereka terhadap nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan mereka sendiri dan orang lain. Bermain peran pada prinsipnya merupakan pembelajaran untuk ‘menghadirkan’ peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap . Misalnya: menilai keunggulan maupun kelemahan masing-masing peran tersebut, dan kemudian memberikan saran/ alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut. Pembelajaran ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.
Role playing adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang . Dalam role playing murid dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas, dengan menggunakan bahasa Inggris. Selain itu, role Playing sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain .
Dalam role playing murid diperlakukan sebagai subyek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab dalam bahasa Inggris) bersama teman-temannya pada situasi tertentu. Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri murid .
Sementara itu, sesuai dengan pengalaman penelitian sejenis yang telah dilakukan, manfaat yang dapat diambil dari role playing adalah: Pertama, role playing dapat memberikan semacam hidden practise, dimana murid tanpa sadar menggunakan ungkapan-ungkapan terhadap materi yang telah dan sedang mereka pelajari. Kedua, role playing melibatkan jumlah murid yang cukup banyak, cocok untuk kelas besar. Ketiga, role playing dapat memberikan kepada murid kesenangan karena role playing pada dasarnya adalah permainan. Dengan bermain murid akan merasa senang karena bermain adalah dunia siswa. Masuklah ke dunia siswa, sambil kita antarkan dunia kita .
B.     Langkah-Langkah Dalam Model Pembelajaran Bermain Peran (The Role-Playing Model )
1.      Langkah pokok :
a)      Memilih situasi bermain peran
b)      Mempersiapkan kegiatan bermain peran
c)      Memilih peserta/pemain peran
d)      Mempersiapkan penonton
e)      Memainkan peran (melaksanakan kegiatan bermain peran)
f)        Mendiskusikan dan mengevaluasi kegiatan bermain peran
2.      Yang harus dilakukan guru :
a)      Menyajikan atau membantu siswa memilih situasi bermain peran yang tepat
b)      Membangun suasana yang mendukung, yang mendorong siswa untuk bertindak “seolah-olah” tanpa perasaan malu
c)      Mengelola situasi bermain peran dengan cara yang sebaik-baiknya untuk mendorong timbulnya spontanitas dan belajar
d)      Mengajarkan keterampilan mengobservasi dan mendengarkan secara efektif dan kemudian menafsirkan dengan tepat apa yang mereka lihat dan dengarkan

C.     Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Bermain Peran (The Role-Playing Model )
Metode role playing atau bermain peran adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan itu dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati .
Metode ini banyak melibatkan siswa dan membuat siswa senang belajar, sebagaimana dikemukakan oleh Adorn dan Mbirirnujo (yang menyatakan bahwa metode bermain peran ini mempunyai nilai tambah, yaitu : (1) dapat dijamin jika seluruh siswa dapat berpartisipasi dan mempunyai kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya dalam bekerja sama hingga berhasil, dan (2) peranan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak. Butir terakhir inilah yang menjadi dasar dalam bermain peran, yang menyatakan bahwa anak-anak dapat belajar dengan baik pada saat pelajaran tersebut dapat menyenangkan.
Hal senada dikemukakan oleh Kristiani  bahwa dengan menerapkan metode bermain peran akan terjadi suasana yang menggembirakan bagi siswa selama mereka belajar metode role playing dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang sedang dipelajari sebagaimana dikemukakan oleh Pidarta bahwa dengan melakukan peran suatu kasus pada materi pelajaran yang sedang dibahas.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode role playing banyak melibatkan siswa untuk beraktifitas dalam pembelajaran, sehingga akan memberikan suasana yang menggembirakan sehingga siswa senang dan antusias dalam mengikuti pelajaran. Dengan demikian, kesan yang di dapat siswa tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari lebih kuat, yang pada akhirnya dapat meningkatkan basil belajarnya. sedangkan kelemahan atau kekurangan role playing antara lain : 1) menimbulkan kegaduhan sehingga terkadang menyebabkan kelas yang lain merasa terganggu, 2) dibutuhkan keterampilan guru dalam mengelola permainan, 3) siswa kurang maksimal atau menghayati peran yang dilakoninya, 4) membutuhkan banyak waktu untuk melakukan persiapan dalam bermain peran, dan 5) dibutuhkan kecakapan bahasa yang baik dari siswa.

D.    Cara mengatasi Kelemahan Model Pembelajaran Bermain Peran (The Role-Playing Model )
a)      Merumuskan  tujuan yang akan dicapai dengan melalui metode ini. Dan tujuan tersebut diupayakan tidak terlalu sulit/berbelit-belit, akan tetapi jelas dan mudah dilaksanakan
b)      Melatar belakangi cerita bermain peranan tersbeut. Misalnya bagaimana guru dapat menjelaskan latar belakang kehidupan sahabat Aku Bakar sebelum menceritakan kisah sahabat Abu Bakar masuk Islam. Hal ini agar materi pelajaran dapat dipahami secara gamblang dan mendalam oleh siswa/anak didik
c)      Guru menjelaskan bagaimana proses pelaksanaan bermain peranan melalui peranan yang harus siswa lakukan/mainkan
d)      Menetapkan siapa-siapa diantara siswa yang pantas memainkan/melakonkan jalannya suatu cerita. Dalam hal ini termasuk peranan penonton
e)      Guru dapat menghentikan jalannya permainan apabila telah sampai titik klimaks. Hal ini dimaksudkan agar kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah dapat didiskusikan secara seksama








Daftar Pustaka
·        Model pembelajaran departemen pendidikan nasional lembaga penjamin mutu pendidikan, Jawa Tengah 2004

Model Shared


A.    Pengertian Model shared

Model shared adalah suatu model pembelajaran terpadu dimana pengembangan disiplin ilmu yang memayungi antar mata pelajaran, contohnya matematika dan ipa disejajarkan sebagai ilmu pengetahuan. Kesusastraan dan sejarah digabung pada label kemanusiaan, seni, musik, menari, dan drama. Dibawah payung kesenian yang pokok, teknologi komputer dan industri rumah tangga sebagai kesenian yang perlu dipraktekkan. Dalam disiplin komplementer tersebut, perencanaan partner dan atau pengajaran memfokuskan pada konsep, ketrampilan, dan sikap, yang terbagi (shared).   

Pandangan model shared dari integrasi curricular, guru harus menggali dua disiplin nyata yang terdiri dari konsep, keterampilan, dan sikap tumpang tindih serta konten yang sebenarnya. Unit Yang lebih kompleks daripada sekadar pengurutan yang sesuai dengan tema lain.

Kurikulum dengan dasar model shared digunakan untuk mencapai standar perencanaan yang telah digunakan secara ekstensif. Agar suasana kelas menyenangkan dalam pembelajaran guru merencanakan alat dan media pembelajaran yang sederhana yang ada di masyarakat sekitar dengan konsep yang efisien. dengan mempertimbangkan " Apa konsep berbagi ini?", "Apakah kita mengajarkan keterampilan yang sama?", dan " apakah shared mempunyai penggunaan komponen sama dalam kaitan dengan konsep dan ide?".

B.    Keuntungan Dari Model Shared

Keuntungan dari model perencanaan kurikulum secara terbagi ini terletak pada kemudahan penggunaanya pada langkah awal menuju model yang lebih terintegrasi yang meliputi empat disiplin. Dengan memasangkan disiplin-disiplin yang mirip, tumpang tindih memfasilitasi belajar untuk trasver belajar. Dengn kata lain, lebih mudah menjadwalkan periode perencanaan umum untuk tim yang terdiri dari dua orang guru dari pada penjadwalan untuk tim dengan empat orang guru. Selain itu, perencanaan sering kali menyebabkan pembagian pengalaman belajar seperti film dan field trip, karena dua orang guru dapat meletakkan tugas keduanya bersama-sama untuk memunculkan blok waktu yang lebih jelas.

C.    Kelemahan Model Shared

Kendala untuk berbagi kurikulum adalah perencanaan waktu yang diperlukan untuk mengembangkan. Selain waktu, fleksibilitas dan kompromi adalah penting untuk keberhasilan implementasi-hal ini memerlukan kepercayaan dan kerja tim model integrasi lintas dua disiplin ini memerlukan komitmen dari pasangan (partner) untuk bekerja melalui fase awal. Untuk mendapatkan tumpang tindih yang sebenarnya dalam konsep-konsep kurikulum memerlukan dialok dan pembicaraan mendalam.

D.    Kegunaan Model Shared

Model ini cocok ketika berbagai bidang studi dikelompokkan dalam kelompok besar seperti ilmu sastra/seni praktis. Model ini juga memfasilitasi lngkah awal implementasi menuju kurikulum terpadu. Model ini merupakan model yang aktif untuk menggunakan dua disiplin sebagai tahap intermediate menuju tim dengan empat disiplin yang jauh lebih rumit dan komplek.

Kesimpulan
Model shared merupakan suatu model pembelajaran terpadu dimana dalam prosesnya menggunakan dua mata pelajaran atau lebih  yang sejenis digabungkan menjadi satu misalnya : Matematika dan IPA dipasangkan dalam mata pelajaran sains. Oleh karena itu guru dapat lebih mudah menjadwalkan periode perencanaan umum untuk membentuk tim yang terdiri dari dua orang guru dari pada penjadwalan untuk tim dengan empat orang guru. Tetapi model ini memerlukan waktu yang cukup lama dalam perencanaannya karena dibutuhkan kompromi dan kerja sama dalam tim.
Model ini cocok di terapkan untuk semua tingkatan pembelajaran (SD,SMP.SMA maupun perguruan tinggi). Model ini merupakan langkah awal untuk model integrated.


Metode Quantum Teaching


a.      Pengertian Quatum Teaching
      Quantum Teaching menurut pendapat Bobbi DePorter (dalam Ari Nilandri, 1999;56) adalah sebagai berikut :
"Quantum Teaching adalah berbagai interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur- unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Pembelajaran yang menyingkirkan hambatan yang menghalangi proses kegiatan belajar dengan cara sengaja mengggunakan musik/mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran yang sesuai pengajaran yang efektif dan banyak mengaftifkan siswa.


b.      Asas Quantum Teaching.
      Asas utama Quantum Teaching menurut pendapat Bobbi DePorter adalah Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka. Inilah Asas Utama alasan dibalik segala strategi, model, dan keyakinan Quantum Teaching. Setiap interaksi dengan siswa , setiap rancangan kurikulum , dan setiap metode Instruksional dibangun di atas prinsip Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita , dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka. (dalam Bobby De Porter ,2010:34) maksud dari asas tersebut adalah mengenai aspek kepribadian manusia. Semua aspek itu meliputi pikiran, perasaan, bahasa isyarat, pengetahuan, sikap dan keyakinan serta persepsi masa mendatang. Jadi belajar akan berhasil apabila dengan cara mengaitkan yang diajarkan dengan suatu peristiwa, pikiran atau perasan yang diperoleh dari kehidupan rumah. Belajar akan berhasil bila guru bisa memahami keadaan siswa-siswanya, sehingga semua materi, pesan yang disampaikan akan tertanam di hati siswa tersebut. Akhirnya dengan pengertian yang lebih luas dan penguasaan lebih mendalam, siswa dapat mengambil apa yang mereka pelajari ke dalam dunia mereka dan menerapkannya pada situasi baru.
c.       Prinsip-prinsip Quantum Teaching.
      Menurut Bobbi DePorter (dalam Ari Nilandri, 2010:36 ) Quantum Teaching memiliki lima prinsip atau kebenaran tetap. Serupa dengan Asas Utama , Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita , Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka. Prinsip – prinsip ini sangat mempengaruhi seluruh aspek Quantum Teaching. Adapun prinsip – prinsip itu adalah sebagai berikut :
1)      Segalanya berbicara
Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh, bahasa isyarat mereka, semuanya mengirim pesan untuk belajar.
2)      Segalanya mempunyai tujuan.
Semua yang dilakukan guru mempunyai tujuan.
3)      Pengalaman sebelum pemberian nama.
Otak kita bisa berkembang pesat dengan adanya rangsangan komunikasi yang akan menggerakkan rasa ingin tahu, oleh karena itu proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka mempelajari.
4)      Akui Setiap Usaha.
Belajar mempunyai aturan, belajar berarti melangkah keluar dari kenyataan. Pada saat siswa mengambil langkah ini, mereka pantas mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka sehingga merasa bangga dengan kemampuan yang mereka miliki bisa menimbulkan minat yang lebih besar.
5)      Jika layak dipelajari maka layak pula dirayakan.
Perayaan adalah sarapan pelajar juara , perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar. Guru sebaiknya sering memberi hadiah kepada siswa yang berhasil dalam menyelesaikan tugas dengan cepat dan benar. Dengan pemberian hadiah berupa pujian, mereka akan merasa dihargai, sehingga mereka akan selalu berusaha agar dapat memecahkan masalah tugas yang diberikan.
d.      Model Quantum Teaching
      Model Quantum Teaching menurut Bobbi DePorter (dalam Ari Nilandri, 2010:37 ) hampir sama dengan sebuah simfoni, kita dapat membagi unsur tersebut menjadi dua kata ganti yaitu konteks dan isi. Konteks adalah latar untuk pengalaman guru. Konteks merupakan keakraban meliputi:
lingkungan, suasana, landasan, dan rancangan. Isi, yaitu penyajian dan fasilitas saat guru mengajar, unsur-unsur yang sama tertata dengan baik, suasana lingkungan, landasan, penyajian dan fasilitas.
      Dalam aksi konteks guru akan menemukan semua bagian yang dibutuhkan untuk mengubah yaitu :
1)      Suasana yang menyenangkan.
2)      Landasan yang kukuh.
3)      Lingkungan yang mendukung.
4)      Rancangan belajar yang dinamis.
      Di dalam isi, guru akan menemukan keterampilan cara penyampaian kurikulum apa pun. Strategi yang dibutuhkan oleh siswa yaitu: penyajian yang prima, fasilitas yang luwes, ketrampilan untuk belajar dan ketrampilan hidup.
e.       Kerangka Rancangan Belajar Quantum Teaching.
      Kerangka rancangan belajar Quantum Teaching menurut Bobbi DePorter (dalam Ari Nilandri, 2010: 39) ada enam yaitu meliputi :
1)      Tumbuhkan, artinya seorang guru dalam mengajar harus dapat menimbulkan minat siswa untuk mengikuti pelajaran, dengan berbagai macam, sehingga dengan minat yang ada maka pembelajaran akan dapat berjalan dengan lancar.
2)       Alami, maksudnya seorang guru dalam mengajar harus dapat menciptakan pengalaman umum yang dapat dimengerti oleh siswanya. Guru dalam mengajar memberikan contoh peristiwa yang pernah dilihat anak-anak sehari-hari.
3)      Namai, maksudnya, seorang guru dalam mengajar menggunakan kata yang mudah dimengerti, rumus yang benar, memberi konsep yang jelas, model yang mudah dimengerti, strategi yang mudah dilakukan.
4)      Demonstrasikan, maksudnya guru dalam mengajar member kesempatan pada siswa untuk menunjukkan bahwa mereka tahu, artinya guru dalam mengajar menggunakan alat peraga untuk mendemontrasikan materi yang diajarkan, sehingga siswa akan mudah mengingat isi pesan yang disampaikan oleh guru.
5)      Ulangi, maksudnya guru dalam mengajar dapat menunjukkan cara yang mudah untuk mengulang materi. Misalnya, dengan memberikan rangkuman yang diajarkan tadi.
6)      Rayakan, maksudnya seorang guru dalam mengajar dapat member pengakuan atas usaha siswa untuk menyelesaikan tugas dan pemerolehan keterampilan serta ilmu pengetahuan. Kelas dapat menjadi rumah tempat siswa, tidak hanya terbuka terhadap umpan balik, tetapi juga menjadi tempat untuk belajar, mengakui dan mendukung orang lain, tempat mereka mengalami kegembiraan dan kepuasan memberi dan menerima, belajar dan tumbuh.
f.       Langkah Pembelajaran Quantum Teaching
      Menurut Bobbi DePorter (dalam Ari Nilandri, 2010;44) konteks menata tempat/arena belajar sebagai berikut :
1)      Suasana kelas meliputi: bahasa yang dipilih guru, cara menjalin rasa simpati dengan siswa dan sikap siswa guru terhadap siswa dalam belajar.
2)      Landasan adalah pedoman yang digunakan guru dalam memberikan materi pelajaran.
3)      Lingkungan adalah cara menata ruangan kelas, pencahayaan, warna, pengaturan tempat duduk, pengaturan tanaman, music serta semua yang mendukung proses belajar.
4)      Rancangan adalah penciptaan karakter unsur penting yang bias menumbuhkan minat siswa mendalami makna dan memperbaiki proses serta tukar-menukar informasi.
g.      Strategi Mengajar Quantum Teaching.
      Strategi mengajar Quantum Teaching menurut Bobbi DePorter (dalam Ari Nilandri, 2010:49 ) ada lima meliputi :
1)      Kekuatan terpendam/niat
“ keyakinan sesorang mengenai kemempuan dirinya sangat berpengaruh pada kemampuan itu sendiri “. ( Menurut Albert Bandura ,1998 ).
Niat seorang guru akan kemampuan dan motivasi siswa harus terlihat jelas. Waktu pembelajaran berakhir guru memandang siswa dengan cara yang menyakinkan, siswa dianggap dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan benar.
Dalam buku Education on the Edge of Possibility, Renate Nummela Caine dan Geoffery Caine menyatakan,
“ Keyakinan guru akan potensi manusia dan kemampuan semua anak untuk belajar dan berprestasi merupakan suatu hal yang penting diperhatikan. Aspek – aspek teladam mental guru berdampak besar terhadap iklim belajar pemikiran pelajar yang diciptakan guru. Guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh kuat pada proses belajarnya ( Caine dan Caine , 1977: 124 )

Ø  Peran Emosi dalam Belajar
      Memperhatikan emosi siswa dapat membantu guru mempercepat pembelajaran mereka. Memahami emosi mereka dapat membuat pembelajaran lebih berarti dan permanen. Guru menggunakan keadaan positif siswa untuk menarik ke dalam pembelajaran, di bidang mana mereka dapat mengembangkan kompetensinya. Kuncinya adalah membangun ikatan emosional tersebut dengan menciptakan kesenangan dalam belajar, menyakini hubungan yang menyingkirkan segala ancaman dalam suasana belajar.
      Penelitian otak semakin menunjukkan adanya hubungan antara keterlibatan emosi, memori jangka panjang, dan belajar.penelitian menyampaikan kepada kita bahwa tanpa keterlibatan emosi, kegiatan saraf otak itu kurang dari yang dibutuhkan untuk merekatkan pelajaran dalam ingatan ( Goleman, 1995, Le Doux, 1993, MacLean,1990 ).    

Ø  Segala Berperan Serta
      Siswa menangkap pandangan guru lebih cepat dan akurat dari pada menangkap apa yang diajarkan. Di sini guru memandang siswa seolah seperti murid yang pintar. Guru dalam memberikan pelajaran banyak senyum, banyak mengobrol dengan akrab, dan berbicara dengan cara yang lebih intelektual dan penuh humor, maka siswa akan merasa nyaman dalam menerima pelajaran.
2)      Jalinan Rasa Simpati dan Saling Pengertian
      Untuk menarik keterlibatan Siswa dalam belajar, guru bias menjalin hubungan, mengakui rasa simpati dan saling pengertian. Hubungan yang harmonis, akan menimbulkan kehidupan bergairah siswa. Bisa membuka jalan memasuki dunia baru mereka, mengetahui minat kuat mereka , berbagi kesuksesan puncak mereka, dan berbicara dengan bahasa hati mereka.Dengan membina hubungan dengan mereka, maka siswa akan menerima guru dan menerima apa yang diajarkannya.
3)      Keriangan dan Ketakjuban
      Jika guru bisa menciptakan suasana yang menyenangkan, bias membuat siswa siap belajar, dan lebih mudah, dan dapat mengubah sifat negatif serta memberi pengakuan terhadap siswanya, akuilah setiap usaha semua orang senang diakui. Menerima pengakuan membuat orang bisa merasa bangga, percaya diri dan bahagia. Penelitian yang mendukung konsep bahwa kemampuan siswa akan meningkat karena pengakuan guru. Dalam kajian Garden Wells mengenai bahasa belajar anak, dia mengutip :
“Jika diharapkan melakukan transformasi dengan mudah dan percaya diri, mereka harus mengalami lingkungan baru, sekolah sebagai sesuatu yang menggerakkan dan menantang. Dalam lingkungan ini sebagai usaha harus berhasil dan mereka harus diakui sebagai diri mereka dan apa yang dapat mereka lakukan…… anak yang merasa atau dibuat merasa”.
Ø  Dampak Afirmasi
      Guru harus menggunakan afirmasi sebagai cara ampuh untuk menambahkan lebih banyak kegembiraan. Memahami kaitan antara pandangan sekeliling dan otak itu penting untuk mengorkestrasi lingkungan belajar yang mendukung. Adapun cara memanfaatkan kemampuan siswa untuk secara tidak sadar menyerap informasi melalui kemitraan otak mata yaitu dengan melakukan hal – hal di bawah ini :
1.      Memasang poster Ikon mengenai materi – materi di ruangan kelas
2.      Membuat poster Afirmasi
Contoh : “ Aku mampu mempelajarinya “
             “ Aku menjadi semakin pintar dengan setiap tantangan baru “
3.      Gunakan warna
Adapun warna – warna yang dapat memperkuat pengajaran kepada siswa yaitu : ( warna hijau , ungu, biru dan merah untuk kata-kata penting ), ( jingga dan kuning untuk menggarisbawahi, serta hitam , putih untuk kata-kata penghubung ).
Ø  Merayakan kerja keras
      Mengadakan perayaan bagi siswa akan mendorong siswa memperkuat tanggung jawab dan mengawali proses belajar siswa itu sendiri. Perayaan akan mengajarkan kepada mereka mengenai motivasi hakiki tanpa “ insentif “. Siswa akan menanti kegiatan belajar, sehingga pendidikan mereka lebih dari sekadar mencapai nilai tertentu.Adapun bentuk- bentuk perayaan antara lain :
1.      Tepuk tangan
2.      Tiga kali hore
3.      Wuss
4.      Jentikan jari
5.      Poster umum
6.      Catatan pribadi
7.      Persengkokolan
8.      Kejutan
9.      Pengakua kekuatan.
4)      Pengambilan Risiko
                Saat memasukkan unsure risiko ke dalam situasi belajar, Guru akan membangkitkan kesukaan bertualang alami dari pelajar. Hal ini akan membawa melampaui batas mereka sebelumnya dan menambah dampak pengalaman mereka. Belajar itu mengandung risiko . sekali kita bertualang untuk belajar sesuatu yang baru , guru itu berada di zona nyaman , di dalamnya memiliki semua hal yang membuat guru merasa nyaman. Guru mengambil risiko besar di luar zona nyaman. Adapun Memberdayakan siswa untuk keluar dari zona nyaman adalah :
Ø  memberi teladan dengan keluar dari zona nyaman
Ø  menceritakan zona nyaman kepada siswa
Ø  beritahu siswa bahwa guru mendukung 100 %
Ø  ajak semua anggota kelas untuk saling mendukung 
5)      Rasa saling memiliki
          Membangun rasa saling memiliki akan mempercepat proses pengajaran dan meningkatkan rasa tanggung jawab pelajar.
Rasa saling memiliki sejati membuat orang merasa berdaya untuk keluar dan mempertaruhkan zona nyaman mereka demi sukses dan belajar. Rasa ini juga dapat menciptakan bahasa dukungan dan standar memperlakukan satu sama lain dengan hormat ( Singer, 1997 )
6)      Keteladanan
      Keteladanan dapat membangun hubungan , memperbaiki kreadibilitas , dan meningkatkan pengaruh. Seperti paparan sebelumnya bahwa segalanya berbicara. Dan tidak ada yang berbicara lbih keras daripada tindakan . jadi langkah – langkah yang harus dipilih dan dilakukan oleh guru adalah :
1.      Teladankan komunikasi yang jelas
2.      Akui setiap usaha
3.      Senyumlah
4.      Menggunakan energy untuk menciptakan lebih banyak energy
5.      Jadi pendengar yang baik
6.      Ungkapkan pikiran siswa dengan kata-kata sendiri